Review Mobil Listrik Lokal 2025: Apakah Sudah Siap Bersaing Global? – Review Mobil Listrik Lokal 2025: Apakah Sudah Siap Bersaing Global?
Baca juga : Yamaha Cygnus X: Skuter Urban Bergaya Sporty yang Siap Menaklukkan Jalanan Kota
Lanskap Mobil Listrik Indonesia: Kemandirian Dimulai
Pada 2025, industri otomotif Indonesia menunjukkan tanda-tanda transformasi—dengan semakin banyak kendaraan listrik (EV) yang diproduksi lokal. Hyundai Ioniq 5 menjadi pelopor sebagai kendaraan listrik massal pertama yang dirakit di Cikarang, bahkan mencapai produksi hingga 1.000 unit per bulan. Selain itu, Wuling merakit Air EV dan Binguo EV dengan kandungan lokal, sementara DFSK juga memproduksi Gelora E secara domestik. Model lainnya seperti Chery Omoda E5 ikut menambah pilihan SUV listrik buatan dalam negeri.
Model-Model Unggulan: Dari Ekonomis hingga Premium
Pilihan mobil listrik lokal semakin beragam:
-
- Wuling Air EV: Termasuk yang paling terjangkau, kisaran harga mulai Rp184–252 juta dengan jarak tempuh 200–300 km.
- Wuling Binguo EV: City hatchback yang lebih stylish, baterai hingga ~31,9 kWh dan jarak tempuh mencapai 333 km.
- DFSK Gelora E: Fokus kendaraan niaga, pilihan van atau minibus, baterai 42 kWh, jarak tempuh sekitar 300 km.Hyundai Ioniq 5: Mobil listrik premium lokal dengan baterai 58–72 kWh dan fitur canggih serta produksi domestik yang signifikan.
- Chery Omoda E5: SUV listrik dengan tenaga 201 hp dan harga kisaran Rp400 jutaan.
Dominasi Merek Global dan Ekspansi Pabrik
Merek Tiongkok seperti BYD memimpin pasar EV domestik: di awal 2025, BYD menguasai sekitar 38–50% pangsa pasar, dengan penjualan model seperti Sealion 7, M6, dan lainnya sangat tinggi. Perusahaan ini juga tengah membangun pabrik EV di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 150.000 unit per tahun, diharapkan mulai operasional akhir 2025 atau 2026.
Infrastruktur dan Kebijakan: Pondasi Akselerasi
Adopsi EV di Indonesia masih terbatas—baru sekitar 7% dari kendaraan bermotor. Meski begitu, pemerintah mulai memperkuat regulasi LCEV dan memberi potongan pajak hingga 50% untuk kendaraan listrik. Infrastruktur juga mulai berkembang: tersedia lebih dari 2.000 SPKLU pada Mei 2025. Namun, pembangunan di luar kota besar masih perlu ditingkatkan.
Menakar Daya Saing Global
Keunggulan
-
- Produksi lokal: Model seperti Ioniq 5, Air EV, Binguo EV, dan Gelora E menandai awal kemandirian industri EV lokal.
- Harga kompetitif: Wuling EV menawarkan alternatif murah, sementara Ioniq 5 dan Omoda E5 menjadi tangguh di segmen premium domestik.
- Regulasi dan insentif: Kebijakan pajak dan fasilitas mempercepat adopsi serta menarik investasi manufaktur.
Tantangan
-
- Infrastruktur terbatas: SPKLU masih langka di luar kawasan urban.
- Konsumen skeptis: Harga masih lebih tinggi 20–30% dibanding mobil konvensional, memerlukan insentif kuat untuk menjembatani kesenjangan.
- Regulasi baterai bekas: Masih belum ada sistem daur ulang dan standar pengelolaan baterai yang jelas.
Kesimpulan: Masih Butuh Lompatan, tapi Pondasi Kuat
Secara keseluruhan, gacha99 mobil listrik lokal Indonesia pada 2025 telah menunjukkan kemajuan menjanjikan. Dengan semakin banyak produksi lokal, perusahaan global yang membangun pabrik, serta dukungan kebijakan dan insentif, daya saing Indonesia di pasar global mulai menguat.
Akan tetapi, untuk benar-benar siap bersaing secara global, Indonesia perlu mempercepat pengembangan infrastruktur pengisian, memperluas wilayah jangkauan insentif, serta membangun ekosistem daur ulang baterai. Jika langkah-langkah ini terealisasi dalam beberapa tahun ke depan, bukan tak mungkin EV lokal kita bisa menembus pasar ASEAN bahkan internasional—menjadi kebanggaan industri otomotif tanah air.
